KEUTAMAAN MENCINTAI ANAK YATIM
31-August-2021

KEUTAMAAN MENCINTAI ANAK YATIM

Islam adalah satu-satunya ajaran yang sempurna. Di dalamnya terhimpun aturan-aturan langit yang mengajarkan manusia untuk senantiasa berbuat baik di kala lapang maupun sempit. Bukan hanya mengatur hubungan hamba dengan penciptanya, Islam bahkan mempunyai pembahasan khusus terkait pola hubungan sosial antar sesama manusia. Salah satunya adalah syari’at untuk memuliakan dan mencintai anak yatim. Islam agama yang begitu komplektif dalam mengatur hubungan antar sesama makhluk sosial . Bagaimana cara membagi perhatian terhadap anak yatim yang membutuhkan kepedulian.


 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabadikan keutamaan mencintai anak yatim dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad ra, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam serta merenggangkannya sedikit. ( HR.Bukhari ). Sebuah hadits yang menawarkan kesempatan mulia bagi siapapun umatnya yang ingin hidup satu naungan dan berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak. Bahkan kedekatan ini digambarkan sebagai kedekatan yang hampir tidak ada sekat, tidak ada jarak, sedekat jari tengah dan jari telunjuk yang direnggangkan. Tentu hal ini didapat bagi orang yang mau menyantuni anak yatim dan menanggung kehidupan mereka.

             Demikian halnya, ditegaskan juga dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 220 : “….. mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. Katakanlah, ‘memperbaiki keadaan mereka adalah baik! …..”

Ayat ini menuntun kita sebagai muslim hendaknya selalu berbuat baik terhadap sesama terutama pada anak yatim, yaitu dengan menyantuni, mencintai dan merawatnya dengan segenap kemampuan kita. Apalagi terhadap mereka anak yatim yang masih berusia belia. Anak yatim yang belum mampu berdiri tegak untuk menghidupi dirinya sendiri, yatim yang masih dalam usia pengasuhan dalam ketidakmampuan mereka mencukupi kebutuhan hidupnya.  Maka mereka inilah yang membutuhkan perhatian kita, membutuhkan kepedulian kita untuk berderma dengan keluasan yang kita punya.


Makna mencintai dalam bahasan kali ini ternyata mempunyai jangkauan yang cukup luas. Mencintai anak yatim bukan hanya menaruh perhatian pada kebutuhan jasad seperti urusan makan dan minum saja, tidak sesempit itu, tapi bahkan juga mencakup pemenuhan terhadap kebutuhan ruh, dan akalnya. Termasuk didalamnya mengasihi mereka layaknya orangtua mencurahkan kasih sayang pada anak kandungnya, memberikan pengarahan kehidupan, memberikan bimbingan, serta mendidiknya dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran Allah dan Rasulnya.  

Mengasihi anak yatim adalah sebuah panggilan iman yang Allah gambarkan dengan banyak sekali keutamaan, diantaranya :

Pertama, berpeluang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak. Orang yang memelihara anak yatim akan berdekatan dengan Rasulullah diibaratkan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah (sebagaimana hadits yang telah disebutkan diatas).

Kedua, menjadi kebaikan bagi orang yang mengasihi anak yatim. Karena memperbaiki keadaan mereka adalah suatu kebaikan. Suatu kebaikan bisa menghasilkan kebaikan yang lainnya. Seperti kedermawanan seorang mukmin yang menjembatani anak yatim untuk melanjutkan pendidikan, maka diharapkan dengan ilmu tersebut lahirlah kebaikan dan keberkahan baik baginya maupun bagi umat ini secara umumnya. Hal ini senada dengan firman Allah swt. “.… mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim katakanlah, ‘memperbaiki keadaan mereka adalah baik!’…” ( QS. Al-Baqarah : 220 ).

Ketiga, menjadi investasi amal kebaikan kelak di akhirat. Bahkan Allah menawarkan sebuah investasi yang tidak akan pernah mengenal rugi. Investasi paling menjanjikan yang bisa dipanen nanti diakhirat kelak. Salah satu jalannya Allah bukakan dengan peintah mencintai anak yatim. Sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah ra, berkata : “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara (yaitu) : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh yang selalu mendoakannya”.  (HR.Muslim).

Keempat, dijamin masuk surga. Mukmin yang benar imannya tentu meyakini bahwa janji Allah adalah janji yang mutlak kebenarannya, janji yang tidak mungkin bisa disalahi. Maka Allah janjikan surga bagi hambanya yang memuliakan anak yatim. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari Ibnu Abbas berkata : “Orang-orang yang memelihara anak yatim diantara umat muslimin, memberikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni”. (HR. Tirmidzi)

Kelima, terhindar dari siksa hari akhir. Telah banyak sekali kalam langit yang memberitakan tentang peristiwa hari akhir. Peristiwa besar yang diimani dan pasti terjadi. Nanti di hari akhir setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala tindak tutur dan perilakunya di dunia. Karena itulah kita selalu meminta agar dimudahkan dalam menghadapi mencekamnya hari kiamat. Namun Allah memberikan jalan untuk menyelamatkan hambanya dri kegentingan dn siksa hari kehancuran ini dengan memuliakan anak yatim. Sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, berkata Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersada bahwa Allah subhanahu wa ta’alla berfirman : “Demi yang mengutusku dengan haq, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, serta menyayangi keyatiman serta kelemahannya”. (HR. Thabrani).

 Semoga bermanfaat :) sekian, Terimakasih




 

Komentar

CS

Mizan Amanah

+6282112409497

Tika

+6285161188940

Shifa

+6285161194105