Kisah Nabi Ibrahim AS dan Raja Namrud
09-September-2020

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Raja Namrud

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai bapaknya para Nabi karena keturunannya banyak yang diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Nabi Ibrahim AS juga merupakan salah satu nabi yang memiliki ketabahan dan keimanan yang luar biasa, sehingga Nabi Ibrahim AS mendapatkan gelar khusus, yaitu Ulul Azmi, bersama dengan  Nabi Nuh AS, Musa AS, Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.

Ketika beliau lahir, kehidupan kaumnya terkenal sebagai penyembah berhala. Bahkan ayahnya sendiri dikenal sebagai pembuat berhala. Namun meskipun demikian, beliau sendiri menjaga diri dari menyembah berhala dan berseberangan dengan ayahnya.

Allah SWT berfirman:

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”(QS Maryam: 41-48).

Nabi Ibrahim AS kemudian ingin membuktikan kepada kaumnya bahwa berhala yang disembah itu tak bisa berbuat apa-apa. Maka, suatu ketika, saat Raja Namrud bersama rakyatnya pergi meninggalkan negeri, Nabi Ibrahim AS bergegas untuk menghancurkan berhala yang dianggap sebagai tuhan oleh kaumnya.

Beliau menghancurkan 72 berhala dan menyisakan satu berhala yang paling besar. Pada patung yang paling besar itu, Nabi Ibrahim AS meletakan kapak yang digunakannya untuk menghancurkan berhala lain dileher berhala yang paling besar.

Saat Raja Namrud dan warganya kembali, mereka terkejut melihat berhala yang mereka sembah sudah hancur berantakan. Sang raja pun bertanya, siapa yang berani menghancurkan berhala ini, sedangkan seluruh warganya ikut pergi bersama sang raja.

Maka hanya ada satu orang yang dicurigai menghancurkan ini semua, yaitu Nabi Ibrahim AS. Karena hanya beliau yang tidak ikut bersama sang raja.

Ketika bertemu dengan Nabi Ibrahim AS, Raja Namrud bertanya, "Apakah benar engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala tersebut?"

Dengan singkat Nabi Ibrahim AS menjawab, "Bukan." Jawaban itu pun membuat Raja Namrud semakin geram. Raja pun mendesaknya dengan tuduhan bahwa hanya Nabi Ibrahim AS sajalah yang saat itu tidak ikut bersama Raja Namrud.

Nabi Ibrahim AS justru menjawab, "Tanyakan saja kepada berhala yang paling besar itu, mungkin saja berhala yang paling besarlah yang melakukannya, karena terdapat kapak di lehernya."

Raja Namrud kemudian membalas, "Hai Ibrahim, kau sungguh bodoh. Mengapa patung, di mana otakmu? Masak patung seperti itu saya ajak bicara, mana mungkin dia bisa bicara? Kau jangan mengada-ada!"

Dengan lantang, Nabi Ibrahim AS menjawab, "Hai Raja Namrud, siapa sebenarnya yang bodoh. Mengapa patung yang tak dapat bicara dan bergerak kau jadikan tuhan yang harus disembah. Mengapa patung dan berhala yang tak dapat melindungi dirinya itu kalian puja-puja, bukankah ini kebebodohan yang teramat sangat."

Mendengar jawaban tersebut, sang Raja dan warganya pun terdiam sejenak. Setelah itu, Raja Namrud dan pengikutnya pun tidak bisa membantah. Sebagian warganya pun membenarkan perkataan Nabi Ibrahim AS, namun tidak berani mengatakannya di depan raja.

Akhirnya, hanya amarah lah yang timbul di hatinya. Raja Namrud kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap dan mengikat Nabi Ibrahim AS. Penasihat kerajaan menyarankan agar Nabi Ibrahim AS dibakar hidup-hidup. Dan akhirnya, usulan sang penasihat pun disetujui.

Nabi Ibrahim AS diikat dan dilempar ke dalam api yang besar. Namun, Allah SWT dengan rahmat-Nya menolong Nabi Ibrahim AS.

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya: 69).

Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Meskipun Nabi Ibrahim AS dilempar ke tengah kobaran api yang sangat besar, Allah SWT menolong Nabi Ibrahim AS hanya dengan memerintahkan api menjadi dingin. Ketika dilempar ke dalam api, Nabi Ibrahim AS sama sekali tidak merasakan panas. Justru yang beliau rasakan adalah kesejukan yang nikmat sebagai karunia besar dari Allah SWT.

Dalam satu riwayat, Sayyidah Aisyah RA bercerita tentang Nabi Ibrahim AS, bahwa semua binatang termasuk semut berusaha memadamkan api agar tidak membesar, kecuali cicak yang fasiq ikut meniup api agar semakin besar.

Komentar

CS

mida Munawaroh

+6289507922733

ina

+628990697691

Mayang Ayu

+628985816893

Makmuri

+6282127338640

Safaryanti Nuraini

+6281223208715

Febriyanti Rahmat Sutisna

+62895610180905

Hanifah Marlia

+6285780342178

Reva 1

+6283894313326

Reva 2

+62811843338

Sarah Sophia Nurbaeti

+62

CS Rindi

+62