Giat Respon Penanggulangan Penyebaran Covid-19 di Garut, Jawa Barat
02-November-2020

Giat Respon Penanggulangan Penyebaran Covid-19 di Garut, Jawa Barat

Mizan Amanah melakukan giat respon penanggulangan penyebaran covid-19 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 29 Oktober-2 November 2020. 

Tepatnya di Desa Sukarasa, Kecamatan Pangetikan, tim Mizan Amanah bergegas ke lokasi yang tengah terjadi penyebaran covid-19 tersebut.

Di antara langkah yang dilakukan untuk menekan penyebaran covid-19 di klaster Cipari ini yaitu kegiatan respon penanggulangan yang telah dan akan dilakukan:

  1. Mendirikan dapur umum untuk warga yang berada dalam isolasi
  2. Melakukan Contact tracing santri dan masyarakat.
  3. Melakukan edukasi tentang covid-19
  4. Melakukan penyemprotan desinfektan yang ramah lingkungan
  5. Memberikan layanan dukungan psikososial untuk santri dan warga.


Kronologi Kejadian

Salah seorang santri yang berasal dari Bekasi masuk sekolah diperkirakan terpapar virus covid-19 dengan gejala ringan yang dirasakan saat masih di Bekasi. Suspek ini yang kemudian diperkirakan awal penyebaran virus covid-19 di sekolah dan dimasyarakat dimana tidak ada batas antara lembaga pendidikan dan masyarakat.

Gejala yang dirasakan sebagaimana kebanyakan paparan covid-19 adalah badan terasa sakit dan pegal-pegal dan demam diikuti hilangnya indra penciuman. Gejala ini dialami oleh sebagian santri.

Contact Tracing

Dinas terkait telah melakukan contract tracing kepada seluruh civitas pesantren dan masyarakat yang melakukan kontak erat dengan suspek.

Hasil swab pcr pertama mencatat hasil 80 santri positif covid dan dievakuasi ke tempat karantina untuk dilakukan treatment.

Beberapa hari berikutnya tepatnya 26 oktober 2020, 30 warga kontak erat juga positif hasil pcr sehingga dilakukan evakuasi tahap kedua.

Pada 28 oktober, kembali 32 santriwati dinyatakan positif covid-19 hasil swab pcr dan Kembali dilakukan evakuasi.

Sampai saat progress disusun 29 0ktober 2020 proses tracing masih belum selesai dilakukan.


Sebaran Covid-19

Tidak kurang dari 4 RT dalam satu RW di desa sekarasa atau sekitar 256 kepala keluarga harus diisolasi karena lokasinya satu area dengan inti klaster


Dampak 

Masyarakat menjadi merasa horror dengan situasi yang ada sehingga tidak ada aktivitas diluar rumah, warung dan toko-toko tutup, pemerintah desa dan kecamatan memblokir akses masuk sehingga mayoritas warga melakukan isolasi di rumah.

  • Adapun secara umum kondisi psikis warga tercatat sebagai berikut:
  • Santri yang diisolasi merasa takut
  • Santri yang diisolasi merasa bosan dengan aktivitas di asrama (kobong)
  • Masyarakat khawatir dengan kondisi mereka
  • Masyarakat menjadi korban stigma negatif
  • Masyarakat belum mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang covid-19 sehingga terjadi penolakan tracing. 


Komentar

CS

mida Munawaroh

+6289507922733

ina

+628990697691

Makmuri

+6282127338640

Safaryanti Nuraini

+6281223208715

Febriyanti Rahmat Sutisna

+62895610180905

Hanifah Marlia

+6285780342178

CS Rindi

+6285863213213

Alwina Damayanti

+6281907396324