Bantu Petani di Pesisir Pantai dan Pelosok Negeri Yang Kian Tercekik

11 August 2020 (Batas Waktu)


Donasi Sekarang

“Dalam setahun kita hanya bisa panen sekali. Itu juga banyak kendala, sehingga hasil panen sering tidak bagus” 


Ratusan petani di pesisir pantai semakin mengkhawatirkan. Betapa hasil panen yang didapatnya kian tak menentu, bahkan cenderung merugi. Modal yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil panen yang didapat. 

Apalagi kondisi pandemi yang hari ini sedang melanda negeri, para petani kian terpuruk karena mengalami banyak kesulitan mulai dari proses tani yang kekurangan tenaga pekerja sampai hasil panen sulit dijual ke pasar. Kalau pun bisa dijual, itu pun dengan harga sangat murah. 


Uhle (73), salah seorang petani di daerah Kampung Laut yang merasakan dampak dari kondisi hari ini. Sampai hari ini ia belum bisa menikmati keuntungan dari hasil taninya.

“Hasil panen saya tidak bisa menjualnya. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja,” tutur Uhle yang mengaku sudah sekitar 50 tahun ia menjadi petani di pesisir pantai.

Selama Uhle menjadi petani di pesisir pantai, ia mengaku banyak kesulitan yang belum ada solusinya sampai sekarang. Sehingga kondisi perekonomian para petani tidak berubah. Jangankan untuk mencari keuntungan yang banyak, hasil panen yang didapatnya hanya cukup buat makan keseharian bersama keluarga. 


“Jarang sekali saya menjual hasil panen. Satu kali panen dalam satu tahun itu saya gunakan buat makan sehari-hari saja bersama keluarga,” ungkap Uhle. 

Memang kondisi petani yang di pesisir pantai ini kondisinya berbeda dengan petani lain yang lokasinya berada di tempat lain seperti pegunungan atau lebih dekat dengan daratan. Di pesisir pantai ini jauh lebih sulit, karena berbagai kendala yang harus dihadapi. 

Salah satunya adalah kondisi air. Para petani di pesisir pantai ini cukup kesulitan untuk mendapatkan air tawar untuk menggenangi lahan pertanian. Mereka hanya mengandalkan dari air tadah hujan saja. Kalau musim kemarau panjang, tak jarang mereka mengalami gagal panen. 


Tak ada irigasi, atau hal lainnya yang bisa mendukung pertanian mereka. Sehingga hasil panen yang didapat para petani pun tidak maksimal. Belum lagi kendala lain yang menerpa pertanian mereka seperti hama. Itu akan sangat merugikan kualitas tani mereka. 

Yang dibutuhkan mereka di antaranya air tawar untuk menggenangi lahan pertanian mereka. Dan itu perlu biaya tidak sedikit, karena harus mencari sumber air tawar dari dataran yang lebih tinggi, termasuk pembuatan irigasi permanen guna menyalurkan air tawar tersebut. 


Pun dengan modal, di tengah kondisi pandemi yang cukup lama ini tentunya mereka sangat membutuhkanya. Mereka butuh pupuk, bibit, dan lainnya. Karena perekonomian mereka sudah semakin tak menentu. 

Pak Uhle dan ribuan petani lainnya di Indonesia merupakan tonggak kehidupan masyarakat Indonesia. Apa jadinya kalau para petani merugi dan tidak punya modal untuk menanam kembali? Apa yang akan kita konsumsi? 

Maka dari itu, Mizan Amanah mengajak kepada sahabat dermawan semuanya mari kita bantu para petani di pesisir pantai dan pelosok negeri ini yang semakin tercekik. Yaitu dengan patungan berdonasi lewat Mizan Amanah. Donasi Anda akan kami salurkan kepada para petani di pesisir pantai dan pelosok negeri ini.

 

1.  Klik "Donasi Sekarang"
2. Pilih metode pembayaran: 
GoPay, Virtual Account, Transfer Bank, Kartu Debit atau Kredit 
3. Dapat laporan via email

Dan sahabat bisa membantu share ke rekan atau saudara Anda.


Donatur


Info Terbaru


Tidak Ada Info Terbaru

Mari berbagi informasi yang insha Allah bermanfaat kepada rekan dan saudara kita. Semoga menjadi amal soleh yang membawa keberkahan untuk anda. klik tombol share di bawah ini.